MLensa Malukutenggarabarat
Budaya & tradisi Halmahera (Sasadu, Cakalele, Tifa, bahasa Tobelo-Ternate-Galela)

Sasadu, Cakalele, dan Tifa: Wajah Tradisi Halmahera yang Belum Banyak Dibicarakan

Sasadu, Cakalele, dan Tifa menyimpan cerita panjang masyarakat Halmahera. Tiga wajah tradisi ini jarang dibahas, padahal masih hidup di kampung-kampung.

Sasadu, Cakalele, dan Tifa: Wajah Tradisi Halmahera yang Belum Banyak Dibicarakan

Fakta Kunci

  • Sasadu adalah bangunan adat kayu tanpa dinding permanen milik komunitas Sahu di Halmahera Barat, dipakai untuk musyawarah dan upacara.
  • Cakalele adalah tarian perang dengan penari pria membawa parang dan salawaku, diiringi tifa dan gong.
  • Tifa adalah gendang silinder panjang khas Maluku dan Halmahera, ditabuh dengan tangan, sering dipakai mengiringi tarian dan upacara adat.
  • Bahasa Tobelo, Ternate, dan Galela termasuk rumpun bahasa Halmahera Utara yang masih dipakai sehari-hari di kampung.
  • Tradisi ini hidup di kecamatan seperti Sahu, Jailolo, dan Ibu di Halmahera Barat, bukan sekadar pertunjukan panggung.

Sasadu, rumah yang bicara tanpa dinding

Di kampung-kampung Sahu, Halmahera Barat, ada bangunan kayu yang berdiri di tengah halaman. Namanya Sasadu. Atapnya dari daun kelapa atau seng, tiangnya kayu bulat, dan bagian bawahnya terbuka. Tidak ada dinding permanen. Orang bisa masuk dari beberapa arah. Bentuk terbuka itu bukan kebetulan. Sasadu dipakai untuk musyawarah warga, penyelesaian sengketa, dan upacara adat. Semua orang duduk melingkar, bicara bergiliran, dan keputusan diambil bersama. Di dalamnya ada tiang utama yang dianggap punya makna. Ada juga ruang untuk meletakkan sesajen saat ritual tertentu. Bagi orang Sahu, Sasadu bukan cuma bangunan. Ia tempat mengingat leluhur, tempat mengatur hidup bersama. Beberapa Sasadu di kecamatan Sahu dan Jailolo masih dipakai sampai sekarang. Kalau datang saat ada acara adat, kita bisa dengar bahasa Sahu dan bahasa Ternate bercampur dalam satu perundingan.

Cakalele, tarian yang bukan sekadar tontonan

Cakalele sering muncul di acara penyambutan tamu, pernikahan, atau pesta rakyat. Penarinya pria dewasa. Mereka memakai ikat kepala, kain warna cerah, dan membawa parang di tangan kanan serta salawaku, perisai kayu kecil, di tangan kiri. Gerakannya tegas. Kadang penari melompat, menabrakkan parang ke perisai, dan berputar mengikuti irama. Tifa dan gong mengatur tempo. Di Halmahera, Cakalele bukan hanya hiburan. Ia mengingatkan pada masa ketika kampung harus dijaga dari serangan. Ada versi Cakalele di Maluku Tengah dan Maluku Utara dengan gaya berbeda. Di Halmahera Barat, Cakalele sering dibawakan bersama tarian lain seperti Soya-Soya atau tarian rakyat setempat. Yang menarik, penari biasanya orang kampung sendiri, bukan kelompok profesional dari kota. Latihan dilakukan di halaman Sasadu atau balai desa menjelang acara.

Tifa, denyut yang menyatukan kampung

Tifa adalah gendang panjang dari kayu, ditutup kulit kambing atau ikan di salah satu ujungnya. Bentuknya silinder, kadang dihias ukiran. Cara memainkannya ditabuh dengan tangan, kadang dipukul dengan pemukul kayu kecil. Suaranya rendah dan berdentum. Di Halmahera, tifa dipakai untuk mengiringi tarian, upacara adat, dan acara gereja di beberapa kampung. Tifa juga jadi alat komunikasi. Dulu, pola tabuhan tertentu menandakan ada kabar penting atau bahaya. Sekarang, tifa lebih sering muncul di festival budaya, penyambutan tamu, dan latihan sanggar. Pembuat tifa biasanya pengrajin kayu di kampung. Kayu yang dipakai ringan tapi kuat, dan kulitnya dijemur sebelum dipasang. Harga tifa bervariasi, tergantung ukuran dan bahan. Untuk ukuran kecil, harganya relatif terjangkau. Yang besar dan diukir halus bisa jauh lebih mahal.

Tonton Video

Sering Ditanyakan

Apa itu Sasadu?

Sasadu adalah bangunan adat kayu milik komunitas Sahu di Halmahera Barat. Bentuknya terbuka tanpa dinding permanen, dipakai untuk musyawarah, upacara adat, dan penyelesaian sengketa warga.

Apa perbedaan Cakalele Halmahera dengan daerah lain?

Cakalele di Halmahera umumnya dibawakan penari pria dengan parang dan salawaku, diiringi tifa dan gong. Gaya dan kostumnya berbeda dari versi Maluku Tengah, dan biasanya dimainkan warga kampung sendiri.

Apakah Tifa masih dipakai di Halmahera?

Masih. Tifa dipakai untuk mengiringi tarian, upacara adat, acara gereja di beberapa kampung, dan festival budaya. Ada juga pengrajin tifa di kampung-kampung.

Bahasa apa yang dipakai dalam tradisi ini?

Di Halmahera Barat, bahasa Sahu, Ternate, dan Galela sering dipakai dalam acara adat. Bahasa Tobelo lebih umum di Halmahera Utara dan Halmahera Timur.